BINGUNG

Kekasihku, pagi ini terasa mendung, tapi tak hujan. Seperti segala harapan-harapan itu, kekasihku, tak semuanya bisa terwujud adanya.

Bingung, seringkali muncul dalam ungkapan itu, rasa psikologis yang sering mampir dalam pikir kita. Semua orang pasti merasakannya, wahai kekasihku.

Memang, “bingung” membuat arah rasa kita menjadi “waqof” dalam ruang sempit, pengap, tidak berdaya untuk menerobos jalur-jalur alternatif.

Kekasihku, engkau harus tau, harapan-harapan itu akan terwujud adanya setelah melalui fase kebingungan.

Yakinlah, disitu Tuhan akan memudahkan jalan “kasyaf” untuk mem-fanakan kebingunan itu menjadi “haqiqot-haqiqot harapan”.

Kekasihku, memang mendung tidak pasti hujan. Tetapi hujan pasti mendung. Kekasihku, kebingunan yang menerpamu akan menjadi angin yang membantu membuka tirai pesimisme hidupmu.

Kekasihku, bersabarlah, terus gelorkan semangat dengan reformasi niat yang “tajdid” baru. Supaya engkau paham, bahwa wujudnya harapan akan tercapai dengan melawan kebingunan-kebingungan itu.

Tuhan Maha Adil, kekasihku. Dia, tidak akan memberikan kebingunan yang pekat kepada hamba-hambanya melainkan sesuai kemampuannya.

Oleh karena itu, kekasihku, mantapkan niat yang baik, hujamkan azimat basmalah dalam hatimu, supaya engkau selalu dituntun oleh keramat-keramatnya menuju indahnya harapan-harapan cinta.

Kekasihku, sang ushul fikih berkata dalam kalam qoidahnya: ” _al yaqinu laa yuzalu bissyaq”-_ –keyakinan tidak akan bisa dikalahkan oleh keragu-raguan–, skeptisme.

Kekasihku, niat yang mantap itulah yang akan membawa merdeka dari kebingunan-kebingunan yang tersasat itu.

Kekasihku, niat adalah jembatan asa dalam hidupmu.

Semoga, Tuhan memberkatmu, menerangi jalan hidupmu, kekasihku.

*Kamalisme Institute*
Tuan Rante, 16/7/20

KAMPUNG INSAN KAMIL

Oleh: Kamalisme Institute (Pendiri Lingkar Studi Nusantara Cirebon, penulis amatir kampungan serta pecinta sejarah)

Keindahan Itu Bernama Akhlak
Akhlak Adalah Watak Manusia
Watak Baik, Akhlak Akan Tersenyum
Watak Buruk, Akhlak Akan Cemberut

Akhlak Bukanlah Konsepsi Atau Imajinasi
Bukan Juga Ide-Ide Atau Abstraksi
Akhlak Adalah Kebiasaan,
Yang Diaktulisasikan Dengan Hati

Akhlak Adalah Jalan,
Menuju Kampung Insan Kamil
Adalah Kampung Perantauan Yang Sunyi
Kampung Si Zahid Menyirnakan Dirinya
Dari Keglamoran Dan Kebanggaan Dunia
Kampung Si Zahid Menyirnakan Dirinya

Dari Segala Watak Buruk

Kampung Si Zahid Untuk Menghiasi Dirinya

Dengan Segala Watak Baik
Di Kampung Itu, Ia Berharap
Mengenal Jati Dirinya
Di Kampung Itu, Ia Berharap
Mengenal Tuhan-Nya
Di Kampung Itu, Ia Berharap
Dekat Dengan Tuhan-Nya
Di Kampung Itu, Ia Berharap
Musyahadah dengan-Nya
Di Kampung Itu, Ia Berharap
Mahabbah dengan-Nya.

Tuan Rante, 27 Mei 2020

SERPIHAN TAK BERNILAI

Oleh: Kamalisme Institute

(Pendiri Lingkar Studi Nusantara Cirebon, Penulis Kampungan dan penikmat sejarah)

Aku hanya serpihan-serpihan kecil tak bernama, terkadang tumbuh jumawa ketika berada, lalu menghakimi-Mu setengah mati seperti tak duraka, berkata “Aku tak mengenali Mu.

Dan ketika merasa tak berada, dibawah akar rumput terhina, berkata “Engkau tidak adil bagiku”.

Kini hikmah-hikmah menyadarkan, berbisik “tanpa rahmat-Nya, engkau bukan siapa-siapa, tidak bernilai dan bermakna, bahkan kerikil lebih berharga darimu”.

Itulah Tuhan, mencintai – mengasihi semua ciptaannya tanpa pandang statusnya. Sekarang giliranmu untuk mengimitasi. Demikian, kata diri-intropeksi.

☕🍼

HARMONI ADAB BERTETANGGA

-Kamalisme Institute-

(Pendiri Lingkar Studi Nusantara Cirebon, penulis kampungan dan pecinta sejarah)

Adab bertetangga merupakan sebuah pemahaman tentang jalinan hubungan dengan tetangga berdasarkan harmonisasi akhlaqiyah (akhlak mulia).

Adab bertetangga harus diaplikasikan bukan dalam bentuk teroritis, tetapi dalam bentuk praktik, yakni mengamalkan adab bertetangga secara humanis (kemanusiaan), sehingga akan menumbuhkan jalinan cinta kasih yang sejati antara sesama manusia, baik yang seagama maupun yang beda agama.

Pengamalan adab bertetangga secara humanis merupakan pemahaman dari ajaran Islam yang rohmatalil’alamin secara universal.

Oleh karena itu, adab bertetangga merupakan bagian dari ajaran Islam yang harus dibawakan secara humanisasi, hal ini untuk menunjukkan bahwa Islam bukan agama yang mengajarakan radikalisme dan intoleran, melainkan Islam adalah agama yang mengajarkan kasih sayang bagi seluruh alam.

Salah satu titik harmoni dari “Adab Bertetangga” ialah yang tersirat dalam sebuah syair berikut ini:

Uluk salam kanggo salaman
Uluk senyum kanggo tawadhu’an
Ulur tangan kanggo dermawan
Ngirim berkat kanggo duluran

Harmoni yang dipancarkan dari “Adab Bertetangga” adalah sebuah gambaran perjalanan hidup manusia untuk selalu menebarkan benih-benih salam pada alam semesta.

Uluk salam adalah simbol ke-tasliman, ketundukan kita sebagai seorang ‘abid kepada Tuhan (Allah) yang telah memberikan amanah hukum-hukum Islam (Islam, Iman, Ihsan) untuk diaplikasikan dengan penuh kemurnian hati sebagai bekal mendapatkan kebahagian di akhirat nanti.

Uluk senyum adalah simbol ke-tawadhu’an, kerendahan hati kita sebagai manusia yang penuh dengan lumpur kesombongan di saat kita berada di atas angin duniawi. Harmoni ini, akan mampu menyirnakan kesombongan yang bersemayam di dalam hati kita, di saat merasa memiliki dunia dan seisinya. Sungguh akan indah dan bening, jika tradisi uluk salam ini dilestarikan dalam hamparan sosial yang luas ini.

Ulur tangan adalah simbol ke-berpihakan, rasa perhatian kita terhadap sesama yang membutuhkan atas apa yang kita miliki. Harmoni ini, merupakan bagian dari esensi teolog pembebasan dalam rangka membebaskan diri kita dari pengaruh jahat sifat kikir, tamak, rakus, dan menentang arus kapitalisme yang menghegemoni dalam menguasai status sosial antara si miskin dan si kaya.

Dengan ini, tidak ada pertentangan strata sosial antar umat manusia, yang berujung pada eksploitasi hak-hak manusia dalam lingakaran teologi eksklusif.

Ngirim berkat adalah simbol ke-kerabatan, rasa jalinan kasih dengan mewujudkan persaudaran yang hakiki antar sesama. Harmoni ini dapat diaplikasikan melalui media saling berbagi atas apa yang kita miliki. Karena dengan ini, ketegangan budaya kerukunan bisa di atasi secara bil hal dan dapat menumbuhka rasa saling memiliki tanpa kepribadian superioritas.

SUMBER KAMPUNG PELAJAR

Oleh:

Kamalisme Institute ( Pendiri Lingkar Studi Nusantara)

Sudah lama kampung sumber, mungkin berpuluh-puluh tahun lamanya tidak ter-audio suara-suara edukasi pelajar, tidak ter-visual image aktiviti-aktiviti pelajar.

Terbaca sejarahnya, tertulis kisahnya, terawat budayanya, Ki Gede Sumber, menemukan sumber kehidupan yang bermakna, tersebutlah air sumber pengetahuan. Menyejukkan hati, menjernihkan pikiran, rasionalisasi, spiritualisasi, mengikat liberalisasi, memasung radikalisasi, membunuh ekstrimisi, membuka kekosangan cakrawala menjadi makrifah, dari tidak tau menjadi tau, seterusnya mencari tau dan hakikatnya menemukan Yang Maha Tau.

Tiba-tiba Tuhan berbisik melalui wasilah sesepuh NU, katanya “hijaukan sumber dengan ijo royo-royo, maka engkau akan melihat indahnya cerminan surgawi”.

Aku tak paham, berfikir keras, seperti kebodohan yang mengeraskan alam filsafat dan tasawuf. Merenung, secangkir kopi menertawakan khas dengan senyuman pahit manisnya. Udud tau ketinggalan menertawakan juga dengan kebulan asapnya yang melilit imajinasi kebingungan.

Tetiba, angin berderai-derai menarik lepas perlahan bayang-bayang tak samar dalam socaku, semakin dekat, jelas terlihat, sosok lelaki, bergaya khas ala pedekar bersarung, komat-kamit, lisannya tak tehenti-hentinya ber-dalail khairat, pasti Waliyullah, cletuk dalam hati.

Eh, sosok itu seperti orang gila, tapi tidak gila, diam seribu bahasa, mengandung seribu makna, tanpa isim, tanpa fiil, tanpa huruf dan tak menjadi kalam, sosok itu hilang seketika, hanya ku temukan selembar tulisan di atas daun semboja, persis di titik lenyapnya sosok itu.

Siapakah dia, tak perlu ku jawab, biar sejarah yang menjawab. Pikirku.

Mataku tak tahan juga, segera ku buka, dan kubaca tulisan itu ….sssst _”nak dirikanlah IPNU IPNNU di kampung sumber”._

Tak habis pikir, bingung, semaput tak bertepi, tak mengerti seperti diri ini. Ada munadi memanggil-manggil _”nak segeralah dirikan itu”._

Cancut tali wondo sekencang-kencangnya, pangeran syam’un alghazi pun menyetujui. Salam pelajar, salam pelajar, salam pelajar, tahun 2019 terbentuklah IPNU-IPPNU di kampung kenangan dengan semamgat aswaja an nahdiyah.

Malam datang, membaca syair-syair Doul Ikhwah, qosidah ngopiyah wal ududiyah, semilir angin malam, bermunfarid di altar pesawahan, Terang bulan melengkapi indahnya membaca tafsir maknawi “ijo royo-royo”.

Cita-cita sundul langit, IPNU-IPPNU beraplikatif untuk agama, sosial, ekonomi dan budaya mencapai nilai-nilai aswaja an nahdiyah, NKRI harga mati, pancasila jaya.

Salam pelajar.
IPNU-IPPNU sumber peradaban dunia.

TUAN RANTE,
13 Mei 2020
Rebahan saja 😄☕🍼

SAMIAJI (Sami-sami Ngaji)

Khataman kitab “Syair Sekar Kedaton” di Lingkar Studi Nusantara bekerja sama dengan Irmas JM, Kamalisme Institute & Rijalul Ansor Sumber di Masjid Jamial Mukminin, Kranten, Kenanga, Sumber Cirebon.

Kegiatan ini dirutinkan setiap minggu malam senin, pukul 20.00 – 21.00 WIB. Forum ini difokuskan untuk mengaji karya – karya ulama Nusantara yang berturots Arab Pegon maupun non Pegon.

Perkembangan peserta sangat dinamis, kondisional, bisa 10, 15, 20, 25, bahkan lebih. Mulai tingkat SMA, PT, & UMUM.

Namun pada intinya, “SEKOLAH PEGON” ini lebih fokus pada aspek kualitatif daripada kuantitatif. Bukan berarti tidak butuh kuantitatif, tapi kami meyakini bahwa, “kuan” akan datang setelah “kual” ter-quality.

Motto kami: “ngaji tanpa intimidasi, tapi ngaji dengan menyadari.”

Ekspektasinya adalah, generasi muda NU dapat lebih intim lagi untuk mengenal corak pemikiran dari ulama – ulama Nusantara, hingga bisa memperkuat khazanah Islam Nusantara untuk peradaban dunia.

#LSN
#IRMAS_JM
#RA_SUMBER
#ANSOR_SUMBER

SANTRI-SANTRI HEBAT KH IDRIS KAMALI

Dalam sejarahnya, Kiai Idris Kamali lahir di Makkah pada 1887 dan wafat di Kempek Cirebon pada 1987. Ayahnya Kiai Kamali adalah putra Kiai Abdul Jalil Kedongdong Cirebon. Beliau hanya memiliki seorang putra dari pernikahannya dgn Nyai Azzah Hasyim, Gus Abdul Haq.

Dari dedikasi keilmuan dan keikhlasan spiritual inilah banyak murid2 Menantu Hadratus Syaikh KH M Hasyim Asy’ari ini yg menjadi ulama besar dan para tokoh nasional.

Kiai Idris Kamali adalah pencetak ulama yg lebih suka berada di belakang layar. Apa tanda kecintaannya kepada istri dan santri? Mengapa menantu Kiai Hasyim Asy’ari ini meninggalkan Tebuireng?

Meski ulama besar itu telah 20 tahun mengajar kitab kepada para santri dan mengkader sejumlah santri di Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, nama Kiai Idris tidak cukup menasional dan menjadi salah satu ikon Tebiureng Padahal dia adalah menantu K.H. Hasyim Asy’ari yg telah mengkader sejumlah santri yg kemudian menjadi tokoh ulama di tingkat nasional. Kiai Idris memang lebih suka memerankan dirinya sebagai tokoh di balik layar kemasyhuran Tebuireng pasca-Hadratus Syekh.

Ia lahir di Mekah sekitar tahun 1887 sebagai anak pertama dari pasangan K.H. Kamali bin Kiai Abdul Jalil dan Nyai Saudah. Waktu itu ayahnya dikenal sebagai ulama ilmu falak dan qira’at asal Cirebon yang mengajar di Mekah. Ia satu generasi dengan Syekh Nawawi al-Bantani (1813-1897), Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi (1860-1916), dan Syekh Muhammad Mahfuzh at-Tarmasi (1842-1920) .

Sekitar tahun 1908 Kiai Kamali dan keluarganya pulang ke Cirebon. Di Pesantren Idris digembleng sendiri oleh ayahnya. Setelah itu mondok di Pesantren Kaliwungu Kendal, Jawa Tengah, di bawah bimbingan K.H. Irfan Musa (wafat 1931). Saat itu Kiai Idris sudah menunjukkan tanda2 dirinya sbg orang alim. “Kalau Kiai Idris mengambil ilmu dari saya untuk menghafal al-Quran, maka saya harus mengambil hadis dari Kiai Idris,” ujar gurunya, yg juga pendiri Pesantren Kaliwungu di tahun 1919.

Setelah tiga tahun nyantri di Kendal, Kiai Idris kemudian meneruskan ke Pesantren Tebuireng, nyantri dan berguru ke K.H. Hasyim Asy’ari. Pengetahuannya tentang ilmu hadis diperdalam di sana. Karena beliau tahu bahwa pendiri Pesantren Tebuireng dan pendiri Nahdlatul Ulama itu adalah seorang ahli hadis ternama. Selama nyantri, Kiai Idris dikenal alim dan jenius dalam penguasaan kitab. Kitab2 dasar fiqih seperti al-Ghayah wa-t-Taqrib dan kitab ilmu nahwu seperti Mutammimah, sudah beliau hafal beserta penjelasannya. Selain itu, beliau juga dikenal taat beribadah dan tekun melakukan riyadhah atau latihan spiritual tiap malam. Puasa hampir tiap hari. Dan sudah hafal al-Quran sejak usia 11 tahun. Tidak heran kalau kemudian beliau ia dipercaya sebagai asisten atau badal K.H. Hasyim Asy’ari yg membantu mengajar ngaji kitab di pondok.

Tidak lama kemudian Kiai Idris dijodohkan dgn putri sang guru, bernama Nyai Hj. Azzah di paruh akhir tahun 1920-an. Putri keempat pasangan K.H. Hasyim Asy’ari-Nyai Nafiqah ini adalah kakak kandung K.H. Abdul Wahid Hasyim. Pasangan baru ini kemudian dikaruniai seorang putra satu2nya, Abdul Haq (lahir sekitar tahun 1929). Kiai Idris dikenal sangat cinta kepada sang istri. Setelah wafatnya sang istri di usia muda, Kiai Idris tidak berniat menikah lagi. Demikian pula Kiai Idris sayang sekali kepada anaknya.

Cara Mencetak Ulama

Pada tahun 1940-an, Kiai Idris mengajar di beberapa pesantren di Jawa, dari Pekalongan, Pesantren Kaliwungu di Kendal hingga di Pesantren Kempek Cirebon. Kabarnya ini untuk menghindari kejaran polisi Belanda yg waktu itu sedang mencurigai beliau menghasut para santri dan masyarakat untuk melawan penjajah asing. Namun, selang beberapa waktu kemudian, beliau dipanggil kembali ke Tebuireng.

Maka, sejak tahun 1953, Kiai Idris pun untuk mengajar para santri. Ketika mengasuh pesantren dari tahun 1955, putra K.H. Hasyim Asy’ari itu meminta Kiai Idris mengajar kitab-kitab kuning guna mempertahankan sistem salaf atau ngaji sorogan di Pesantren Tebuireng. Sehingga bobot Tebuireng saat itu identik dengan pengajian kitab yg dimotori oleh Kiai Idris bersama beberapa kiai.

Kiai Idris sendiri melihat bahwa Tebuireng mengalami langkah mundur dalam mencetak ulama mumpuni, seiring dgn diperkenalkanya sistem madrasah berjenjang: ibtidaiyah, tasanawiyah, aliyah. Namun demikian, ia menyadari bahwa dirinya tidak cukup mampu dan cukup berpengaruh untuk mengaktifkan kembali “kelas musyawarah” yg dulu diselenggarakan Hadratus Syekh.

Gus Dur memang pernah mengatakan bahwa kedudukan kiai di pesantren sebagai direceur eigenaar, yakni sebagai pengasuh dan pemilik sekaligus. Tapi rupanya ini tidak berlaku bagi Kiai Idris. Meskipun dia menantu Hadratus Syekh dan dari segi keilmuan, tetapi kedudukan ganda semacam itu berada di tangan KH Kholiq Hasyim. Namun, dgn keterbatasan yang dimiliki Kiai Idris dan didorong rasa keprihatinannya, maka ia memusatkan pengajarannya kepada sekelompok santri pilihan yg didiknya sedemikian rupa sehingga dapat diharapkan mennjadi ulama.

Jumlah mereka kurang lebih 20 orang. Untuk itu ia membuat oersyaratan yg cukup ketat Pertama, harus tinggal di pesantren minimal tiga tahun; kedua, memohon secara pribadi untuk menjadi santri Kiai Idris; ketiga, sudah tamat madrasah tsanawiyah; keempat, mempunyai kesungguhan dan prestasi luar biasa; kelima, sudah hafal kitab dan pelajaran tingkat dasar, keenam, harus patuh kepada sang kiai, terutama dalam menunaikan shalat jamaah lima waktu bersama beliau di masjid, dan, ketujuh, harus menyatakan sumpah bahwa sang santri tetap bertahan untuk ngaji dan tidak akan meninggalkan, sampai sang guru sendiri menyatakan ngaji satu kitab sudah selesai. Selain menggunakan metode sorogan dan wetonan, Kiai Idris juga menggunakan metode musyawarah atau semacam forum diskusi terfokus di antara para santri yg terbagi dalam beberapa kelompok. Metode ini dimaksudkan agar para santri lebih mudah memahami dan mendalami isi satu kitab.

Ada banyak santri beliau yg kemudian menjadi ulama besar dan pendiri pesantren. Dan masing2 santri beliau ini punya spesialisasi keilmuan sendiri.

Kiai Ma’ruf Amin misalnya lebih mewarisi keilmuan fiqih Kiai Idris. Dan memang beliau digembleng oleh Kiai Idris untuk ahli dalam itu fiqih. Sejumlah kitab2 fiqih besar seperti kitab Fathul Wahab dan kitab al-Iqna dibaca Kiai Makruf di hadapan gurunya itu. Sementara Kiai Ali Musthafa Ya’qub dikenal melanjutkan kepakaran Kiai Idris dalam ilmu hadis. Segala masalah keagamaan dijawab dgn pendekatan hadis. Kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim adalah dua kitab hadis favorit Kiai Idris sepanjang hayat. Hingga kini pengajian kedua kitab itu masih dilanjutkan di Tebuireng oleh salah seorang murid beliau, K.H. Habib Ahmad.

Ternyata disiplin dan komitmen ngaji itu juga berlaku buat dirinya. Ia jarang meninggalkan tugas mengajar. Tidak pula sibuk mengurus organisasi atau partai di luar. Bahkan dalam situasi ada tamu terhormat pun (pejabat dari Jakarta hingga seorang presiden!) yg berkunjung ke Tebuireng, sang kiai tidak pernah memberi libur kepada santri2nya. Para santri hanya ingat pernah suatu kali di tahun 1963 pengajian kitab diliburkan gara-gara ada “tamu agung” datang dan hendak ia temui. Dan ternyata tamu agung itu adalah seorang ulama kharismatik dari Jakarta, Habib Ali Kwitang, yg sangat dihormati oleh Kiai Idris. Waktu itu Habib Ali datang ke Tebuireng untuk keperluan ziarah ke makam K.H. Hasyim Asy’ari.

Kiai Idris gemar membaca dan mengoleksi kitab-kitab yang mencapai ratusan jilid. Kitab2 tsb kini tersimpan di Perpustakaan Pesantren Tebuireng. Dan kerap menjadi rujukan dalam kegiatan2 bahtsul masail di lingkungan Nahdlatul Ulama. Ia juga punya hobi beternak sapi dan kambing hingga memenuhi lingkungan pondok dan tidak jarang mengganggu kegiatan belajar-mengajar sebagian santri. Ini ia akukan karena suka berbagi rezeki, termasuk kepada para santri. Terutama untuk para santri yg kekurangan uang atau yg kiriman uang dari orang tuanya sering terlambat. Kiai Idris cukup menunjukkan santri bersangkutan ke tumpukan kitab dan membuka salah satu kitab. Santri itu kemudian menemukan uang di antara lembaran2 kitab itu sesuai dgn jumlah yg diminta.

Tahun 1973 Kiai Idris meninggalkan Indoneisa dan bermukim di Arab Saudi selama beberapa tahun. Ketika ditanya alasannya, ia hanya menjawab untuk menuntut ilmu lagi. Selama bermukimdi Mekah, ia sempat ke Mesir dan menyempatkan diri ziarah ke makam Imam Syafi’i di Kairo. Tahun 1981 Idris kembali ke Cirebon, dan tidak lagi ke Tebuireng. Di Pesantren Kempek, ia hanya mengajar kitab Dala’ilu-l-Khairat karya Syaikh Muhammad al-Jazuli yg terkenal itu. Kiai Idris wafat di bulan Juli 1984 dalam usia lebih dari 90 tahun, dan dimakamkan di pemakaman keluarga di Pesantren Kempek, Cirebon.

Diantara murid-murid beliau :

KH Aqiel Siradj (Cirebon)
KH Abdul Hayyie M Naim (Cipete Jakarta)
Prof DR KH M Tholhah Hasan MA (Malang)
Prof DR KH Mustofa Ali Yaqub, MA (Tangerang)
KH Zubaidi Muslih (Jombang)
Prof DR KH Ma’ruf Amin
KH. Abdur Rasyid Maksum (Jakarta)
Prof. DR. HM. Djamaluddin Mirri, MA. (Surabaya),
KH. Makmun Mahbub (Tegal)
KH. Ishaq Latif (Tebuireng)
KH. Syuhada Syarif (Jember)
DR KH Mustain Syafi’i, MA
H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
K.H. Habib Usman Yahya Cirebon
Kiai Muhid Kebon Gadang
K.H. Habib Ahmad (Jombang)
KH Abdurahim (Pasuruan)
Kiai Ismail (Tegal)
KH. Agus Cecep Karim Hasyim (Jombang)
KH. Qamuli Khudhari
KH Yahya Masduqi (Cirebon)
Prof DR KH. Said Aqil Siraj, MA (berguru saat Kiai Idris bermukim di Makkah dan ngaji kitab sahih bukhari dan sahih muslim di masjid tebuireng)
Dan masih banyak yang lainnya

https://panjimasyarakat.com
http://www.tebuireng.online
http://www.nahdlatululama.id
Dan lain2

Kreasi gambar :
Ahmad Zaini Alawi

KEMBALI KE TAJUG

Kita sedih ana tajug pada sepi,
Yen ning tivi mani kebek ora lali.

-Suluk Rante Sejati-

Sepinya Tajug Tanggungjawab yang mengerti. Sepinya tajug pertanda peradaban ngaji sunyi. Sepinya tajug pertanda tradisi berjamaah ditelan rasa ndeweki. Tajug adalah tempat untuk me-NATA DIRI. Tajug adalah tempat untuk men-JUJUG Gusti. Tajug di Tata di Jujug simbol eksklusivitas manusiawi.

📷 Kamalisme Institut

TAJUG & PERILAKU SOSIAL

Oleh: Ahmad Kamali Hairo

Tajug bukan hanya sebagai tempat sakralitas dalam ibadah mahdhah, tapi juga bisa sebagai tempat praktik ibadah sosial. Seperti yang terjadi di Tajug Nurul Muslim, Tuan Rante, Kenanga, setiap malam Jum’at mentradisikan tahlilan, sholawatan dan setelah itu berbagi berkatan, bisa berupa bubur, atau njabur jaburan lainnya dengan makan secara berjamaah.

Makan- makanan (dibaca berkat) itu berasal dari rasa sukarela masyarakat setempat yang yang terdekat dengan lingkungan Tajug sebagai wujud dari ibadah sosial itu sendiri. Aksiologi dari berkatan itu sendiri memiliki beragam faidah, salah satunya adalah memperkuat tali persaudaraan (prilaku sosial) antar tetangga misalnya. Sebagaimana gubahan syair Jawa dalam Suluk Rante Sejati:

Ulur Tangan Kanggo Dermawan,
Ngirim Berkat Kanggo Duluran.

Makan bersama, Mabar, Mayoran apalah itu namanya merupakan kearifan lokal yang harus senantiasa dilestarikan sebagaimana mestinya menurut adat yang berlaku disetiap daerah dengan keragaman bentuknya. Di Kampung Rante sendiri sudah terbukti, fenomena itu bisa merubah perilaku sosial yang tidak baik menjadi lebih baik, seperti saling sapa, tebar senyum, atau hanya sekedar salaman dan menanyakan perihal kabar. Dan seringkali bisa menekan gesekan-gesekan sosial yang tidak bermutu.